Leave a comment

Hartojo Andangdjaja Menerjemahkan Haiku ke dalam Bahasa Indonesia

Hartojo Andangdjaja, 1991, cet. pertama, Dari Sunyi ke Bunyi kumpulan esai tentang puisi, Jakarta, PT Pustaka Utama Grafiti

Hartojo Andangdjaja, 1991, cet. pertama, Dari Sunyi ke Bunyi: Kumpulan Esai tentang Puisi, Jakarta, PT Pustaka Utama Grafiti

The original Japanese:

Furu ike ya
kawazu tobikomu
mizu no oto

 

 

The old pond;
A frog jumps in —
The sound of the water.

Translated by R.H. Blyth

 

 

Kolam tua
Katak terjun – suara
Plung! Bergema

Translated into Indonesian by Hartojo Andangdjaja

 

“…

Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Ia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Ia lebih dikenal sebagai penyair…

Kekhususan Hartojo ialah bahwa ia sepenuhnya memikirkan puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya -–yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur -–menunjukkan bahwa ia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.

Saya mengenal Hartojo di tahun 1962. Ia baru datang dari Sumatera Barat, tempat ia pernah hidup dan mengajar sebagai guru. Yang memperkenalkan adalah D.S. Moeljanto, agaknya satu-satunya orang di Indonesia yang mengenal betul penyair yang agak misterius ini, karena mereka pernah hidup satu kota di Surakarta, dan Moeljanto praktis merupakan orang tempat ia berdialog sejak mula.

Dengan reputasinya sebagai penyair yang sudah berpengalaman, Hartojo agak membuat saya gentar mula-mula. Ia tidak banyak berbicara. Tubuhnya kecil dan kurus seperti orang yang menderita sakit. Tetapi ada kerapian dalam penampilannya yang sederhana – kerapian juga nampak dalam puisi dan prosanya. Ia bukan sosok yang liar dan
garang, tetapi ia nampak dalam seperti sungai yang tidak banyak riak.

Dan ia memang dalam-perspektif, peka – dan hampir semua percakapan kami hanya mengenal puisi. Ia, sepulang dari Sumatera Barat, mendapatkan kerja di majalah Si Kuntjung, sebuah majalah kanak-kanak terkemuka waktu itu. Ia juga tinggal di sebuah kamar di kantor majalah itu, di Jalan Madura (kini jalan Muhammad Yamin) No. 2,
tempat dulu, sebelumnya, majalah Kisah juga berkantor. Saya sering datang ke sana, terkadang ikut menumpang tidur di dekatnya: sebuah kamar sempit yang panas, 2 X 4 meter persegi, tanpa ranjang. Bila malam, Hartojo tergeletak di atas tikar di lantai. Di dekatnya buku-buku. Ia selalu membaca. Ia agaknya menyimpan beberapa buku
sendiri, dan terkadang meminjamnya dari kamar kumuh Wiratmo Soekito yang tinggal tidak jauh dari sana, di Jalan Cikini.

Puisi dan kesusatraan bagi Hartojo nampaknya merupakan fokus hidupnya, meskipun ia praktis tak mendapatkan apa-apa dari itu, selain pengakuan dan rasa kagum dari segelintir orang. Ia tidak banyak bergaul, selain dengan sejumlah teman sastrawanm, terutama Gerson Poyk. Hartojo lebih sering menyendiri, saya bahkan jarang tahu
bagaimana dan di mana ia sarapan dan makan siang dan makan malam. Makan, dan kebutuhan biologis lain, nampaknya sesuatu yang marginal dalam hidupnya.

Tubuhnya yang ringan itu, yang dibungkus pakain seadanya tetapi bersih, seakan-akan hanya berisi “rasa”. Bila kami berbciara politik -–satu hal yang jarang— maka hal itu pasti ada kaitannya dengan puisi. Tidak mengherankan bagi saya bila Hartojo cemas akan kecenderungan waktu itu, ketika suara paling kuat ialah “mengabdikan
kesusastraan untuk Revolusi” dan pendirian-pendirian “realisme-sosialis” diumumkan, dan mereka yang bersikap lain, seperti Hartojo dan saya dan sejumlah teman, didesak untuk setuju atau dicerca. Itulah sebabnya kemudian ia, dan saya, termasuk orang yang menjadi penandatangan Manifes Kebudayaan, yang menegaskan bahwa kesusastraan tidak bisa dikendalikan oleh kekuasaan politik.

Di tahun 1965 saya berpisah dari dia. Saya ke Eropa, dan sampai dengan 1967 Indonesia bergolak hebat. Saya tidak mendengar apa yang terjadi dengannya. Kemudian saya tahu bahwa ia kembali ke Surakarta, ia berkeluarga dan mempunyai anak –-dan hidup yang dalam keadaan yang sangat bersahaja di tengah pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bukunya terbit: kumpulan sajaknya dan terjemahannya atas Tagore, atas usaha Ajip Rosidi yang memimpin penerbitan Pustaka Jaya.

Namanya akan dikenang sebagai penyair dan penerjemah puisi yang mengagumkan. Kumpulan esainya ini akan membuktikan, bahwa ia tidak hanya dikenang karena itu saja.”
Goenawan Mohamad, Kata Pengantar Dari Sunyi ke Bunyi: Kumpulan Esai tentang Puisi, 1991, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: