Leave a comment

Plastik

autumn breeze
the plastic bottles rattled off
its emptiness

Ken Sawitri
21:23 22/04/2015

Othervisions

Saya kerap sedih melihat peran plastik yang membesar, khususnya di bidang makanan. Bukan hanya dalam skala industruri besar/pabrikan, tapi juga merambah penjual kue tradisional di pasar-pasar. Bahkan merambah ke acara kondangan, slametan, kenduri di kampung-kampung. Sungguh sulit menemukan jajanan yang ‘tak dibungkus’ plastik. Semua harus dimasukkan plastik. Entah itu apem, tetel, lemper yang sudah jelas-jelas dibungkus daun pisang, hingga kacang, telur, permen, krupuk udang. Seolah para pembuat makanan itu berkata, ‘Lihat, makananku ini sungguh higienis karena dibungkus plastiki!’ Jihaiii, jijay dan lebay amat.

Terpaksa, saya bongkar-ongkar foto lama, dan menuangkannya di bawah ini 😛

IMG_7448 ini sagu yang banyak dijual di seantero Maluku. penjualnya masih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus

IMG_7437 gula aren atau gula merah, memanfaatkan daun pisang kering sebagai pembungkus. kadang juga memanfaatkan semacam daun sagu dan woka

View original post 136 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: